BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 07 Agustus 2009

Boku no Hatsukoi by Isaka Tatsuya -3-

We~ BEK!! We~ Bek! WEEEEEEE~~~~BEEEKKK~~KK

PRANG!!
Aku melempar jam wekerku yang sudah mulai rusak itu.

Jaah..Sudah pagi lagi? Duh, kenapa aku pusing sekali hari ini?

Aku memegangi kepalaku dan melihat sekelilingku..
Ada Eiji dan Naoya yang sedang terlelap sambil berpelukan..Uh, menjijikan..

“Reiiii..Nyem, Nyem, Nyem...” Eiji mengigau
“Asukaaa........Mmm...mmm...” Naoya mengigau

Anuu, Eiji..Itu bukan Rei yang kau peluk tapi kakakku!!! Kamu juga Naoya! Hooooh!

Aku mengamati kalender..
“ SUNDAY”

Syukurlah..Masih hari Minggu..Apa jadinya aku kalau kuliah dengan keadaan setengah mabuk begini?

Aku bangun dan turun tangga ke lantai bawah. Di sana ada Yoshida tertidur di kursi makan dengan wajahnya yang DILAPISI buku..

“Buku apa itu? 'Men's Health'??”

Sampul buku itu dipenuhi gambar pria – pria bertelanjang dada yang perutnya bergambar kotak – kotak..

Ya..Yoshida...Aku akui bahwa kau memang MACHO....

Buru – buru membilas mukaku, dan menyikat gigi. Sesudahnya aku pergi keluar untuk jalan pagi.


Kondisi luar rumah


Seperti inilah Minggu pagi
Keluarga bahagia piknik di taman, kakek – kakek membawa cucunya ke taman bermain, Seorang majikan membawa anjingnya jalan – jalan, dua anak remaja laki – laki dan perempuan bergandeng tangan, kemudian si laki – laki mulai mencium pipi si perempuan , lalu dia mulai mencium tangan si perempuan, dan dia mulai mencium.....

….
Sepertinya yang satu itu bukan pemandangan Minggu pagi yang benar..BUKAN!!!

Aku berjalan ke arah taman, mengamati pohon sakura yang indah.. Bunga – bunga sakura yang turun perlahan -lahan telah menyeretku ke dalam keanggunannya. Aku mengelilingi pohon itu. Dan menemukan seseorang tertidur di bawahnya. Siapa ini?

…...
…......
MIKIII??!!!!

Dibanding tidur, dia lebih tepat dibilang pingsan. Barang – barangnya berserakan. Dia terbarin sambil memegang pulpen dan buku.. Aku bergegas membangunkannya

“Oi! Miki! Kamu tidak apa – apa? Hoi!”, teriakku

PLAK!!! Tangan Miki tidak sengaja menamparku, “Ada apa???”

“Ouch!!!” Aaah!! Aoow....Aduu-duh~”, badanku langsung membungkuk. Sakit sekali rasanya

“Astaga Tatsuya! Ada apa denganmu? Siapa yang telah menyakitimu?”, Miki terlihat khawatir

Kaulah yang telah menyakitiku,Nona..Oh..Inikah sakit hati yang kita rasakan sewaktu ditampar oleh wanita yang kita cinta? Lebih tepatnya sakit pipi...

“Hehehehehe..”,Miki tertawa

Aku merasa sedikit jengkel, “Aku kesakitan begini..Kamu malah tertawa??”

“Maafkan aku, Tatsuya. Tapi kamu terlihat konyol dengan cap tangan di pipimu itu..”,Miki masih tertawa

Bagus sekali! Sekarang aku terlihat seperti badut di depan gadis yang kutaksir ini..Very good, Tatsuya!!!

Aku tidak bisa tertawa seperti Miki, aku hanya mengelus pipiku yang merah itu.
Miki menghampiriku, mengusap pipiku dengan saputangannya yang basah..
“Kalau begini, sudah baikan?”, tanyanya

Aku berdebar – debar..
“I..iyaa..”

“Oke!”, Miki langsung berhenti mengusapi pipiku kemudian mengambil pensil dan bukunya.

Tau gitu aku bilang aja pipiku masih sakit....Uurgh..

Aku mengamati Miki yang sedang mencoret- coret bukunya.
Oh, itu adalah buku gambar
Dia sedang menggambar... anak – anak bermain bola?

“Wah, gambaranmu bagus sekali,Miki! Dari tadi kamu menggambar di sini?”,tanyaku

“Iya, aku bosan kalau diam saja di rumah, mengamati anak – anak ini membuatku lebih bersemangat. Biarpun aku jadi korban lemparan bola mereka...Hehehe”

Ternyata itu alasan dia pingsan..

“Miki!” panggilku
“Ya, ada apa?”, Miki menoleh ke arahku

“Kita jalan – jalan yuk! Selama kamu di Tokyo..Kamu belum ke mana – mana kan?”

“Eee??”, Miki terkejut

“Kalau tidak mau, tidak apa – apa kok!! Aku tidak akan memaksamu” Aku tidak ingin membuatnya takut. Aku ini kan masih orang asing untuknya

“Dengan senang hati! Aku ingin sekali keliling Tokyo! Ayo! Kita pergi sekarang! “ Miki terlihat sangat bersemangat, seperti anak kecil.

“Baiklah.. Tunggu di sini ya. Aku ambil sepedaku dulu. Aku akan segera kembali!”

Aku berbalik dan berlari menuju rumah mengambil sepedaku. Kalau jalan kaki , pegel juga rasanya. Hehehhehe.
Setelah medapat sepedaku, aku bergegas menaikinya dan pergi menuju ke taman. Di taman tampak Miki sudah duduk menungguku.

“Miki, ayo naik!”, sapaku kepadanya
“Kau sudah selesai?” , tanyanya
“Iya. Nah, ayo naik!”

Miki duduk di bangku belakang, melingkarkan tangannya di pinggangku, “ Ayo berangkat, Kapten Tatsuya!!”, serunya.

Aku mengayuh sepedaku dengan kencang. Kulewati daerah – daerah sejuk di kota Tokyo selagi pagi. Bunga – bunga sakura yang berjatuhan menambah indah suasana. Hingga kami tiba di tempat itu.

“Di mana kita sekarang, Tatsuya?” , Miki mengamati rumah tua yang ada di depannya.

“Eit, rahasia! Tutup dulu matamu... Ini adalah kejutan!” , senyumku licik.

“Baiklah!” Dengan cepat Miki memejamkan matanya. Seperti dia benar – benar tertarik dengan hal yang akan kuperlihatkan kepadanya.

Aku menggandeng tangannya, menuntunnya masuk ke dalam rumah tua itu..

“Nah , sekarang buka matamu...”, aku memberi instruksi kepada Miki

Miki membuka matanya perlahan – lahan..
“ Astaga.... Tempat ini...cantik sekali......”

Rumah tua itu dipenuhi dengan barang – barang antik dan tua.. Setiap sudut ruangan dipenuhi oleh batu – batu permata yang berkilauan.

“ Sesungguhnya kita berada di mana , Tatsuya?”, Miki menoleh ke arahku
“ Ini adalah Toko Barang Antik Doujima. Tempat yang unik bukan? Kamu suka?”, jawabku
“Iya... Tempat ini....luar biasa.” Miki mengamati barang – barang di dalam rumah itu. Dia sepertinya terkagum – kagum pada tempat ini.

Selagi Miki berkeliaran, aku mengamati kalung -kalung di ruangan pertama. Aku terpesona pada satu. Kalung itu hanya dihiasi satu bola kristal. Bola itu memancarkan warna – warna silau dan indah. Cantik sekali .

Kalung ini..mirip sekali dengan Miki. Kalau aku belikan kalung ini, kira – kira dia bakal suka tidak ya?

Akupun membulatkan keputusanku, “ Aku beli ini!!”, sambil menunjuk kalung tersebut.
“Kamu serius ingin membeli yang ini? Masih ada yang lebih mewah kok.” Sapa seorang kakek di belakangku. Sepertinya di pemilik toko ini.

“Aku rasa inilah yang paling tepat. Mengamati kalung itu membuatku terasa...nyaman.”, jawabku.
“Seleramu tidak jelek anak muda, kalung ini ingin kau berikan untuk pacarmu?” Kakek itu menunjuk ke arah Miki yang sedang berjinjit – jinjit mengamati jam dinding.

“Maaf! Dia bukan pacarku!!”, dapat kurasakan pipiku panas dan memerah.

“Hahaha, untuk pasangan baru kuberikan diskon! , tawa Kakek itu

“Cih, baiklah..” Aku membayar kalung tersebut. Harganya memang tidak murah.

Tapi toh aku punya uang, setidaknya ga sesekarat Osamu yang sampe nyolong makanan adiknya.

“Miki, ayo kita pulang. Kau sudah selesai?”, tanyaku.
“Eh, iya!” , Miki datang menghampiriku.

Kami berdua bersama – sama keluar dari toko itu. Sebelum aku menutup pintu tokok, Kakek itu berseru, “ Anak muda! Kalung itu adalah buatanku! Pilihan yang bagus!”

Aku menengok ke dalam toko,” Namaku bukan anak muda, tapi Tatsuya! Dasar Kakek Doujima!”
“Hahahahahahaha!!” Kakek itu hanya tertawa. Akupun menutup pintu dan bergegas pulang.

“Orang itu kenalanmu?”, tanya Miki kepadaku
“Bukan. Ayuk, kita pulang..”
“Iya.”


Selama perjalanan di sepeda


“Miki, kamu ingin aku antar sampai rumah?”, aku menawarkan diri
“Boleh saja. Tapi kamu yakin tidak keberatan?” Miki terkejut
“Tidak apa – apa. Kamu kasih tau saja alamatnya ya.”
“Sip, terimakasih ya, Tatsuya!” Lingkaran tangan Miki terasa semakin kencang di pinggangku
“MIKI! JANGAN DI SITU! GELIIII!!!”, teriakku
“Tatsuya! Awaas!!! Gyaaaa!”, teriak Miki


Sesampainya di depan rumah Miki


Kami sampai dengan keadaan basah kuyup.
“Aku tidak menyangka bakal jatuh menabrak ember tetangga begini...Basah kuyup deh,hhahahaahahaha!” Miki tertawa kencang.

“Maaf, aku memang cukup sensitif..”, aku hanya bisa menggaruk kepala.
“Tidak apa , setidaknya kau sudah mengantarku sampai depan rumah. Terimakasih ya.”

Rumah Miki sejenis dengan rumah – rumah gaya Eropa, tidak begitu besar tapi terlihat menarik.

“Hari ini cukup sampai di sini ya?”, Miki tersenyum kepadaku
“Sepertinya begitu. Sampai jumpai ya.”, aku membalas senyum.

Miki berjalan ke arah pintu rumahnya. Akupun mulai teringat sesuatu.
“Tunggu Miki!” panggilku
“Ada apa, Tatsuya?”, Miki menoleh

Aku datang menghampirinya “ Ini, untukmu..”, sambil memasangkan kalung yang kubeli di toko pada leher Miki.

“Tatsuya..Ini cantik sekali! Tapi.. Apa maksudnya?”, Miki terlihat bingung
“Aku ingin kau memakainya. Itu terlihat cocok padamu, Miki. Dengan ini, aku merasa hubungan kita bisa lebih dekat lagi. Hehehehe..” , aku hanya bisa nyengir

Miki masih terkejut. Dia tidak berhenti menatapku

Sial! Apa yang kukatakan barusan itu salah? Aku harus ngomong apa atuh??”

“Terimakasih..”
Aku menoleh ke arah suara itu

“Terimakasih..Aku senang sekali....”Miki menatapku tulus. Aku melihat air mengalir dari matanya.

“Miki! Doushita no??”,seruku
“Eh? Wala walaa....Kok bisa sampai nangis begini? Hehehehe, airnya tidak mau berhenti...”
“Miki..”

“Tatsuya... Air mataku tidak mau berhenti...Padahal aku.. bahagia sekali...”, Miki mencoba untuk tersenyum tapi air matanya mengalir semakin deras.

Aku memeluknya, membiarkan dia menangis di dadaku
“Semuanya akan baik – baik saja.. Aku akan terus di sini..”, aku mengelus rambutnya, mencoba menenangkannya.

Aku memeluknya hingga ia berhenti menangis. Sesudah menangis Miki langsung memancarkan senyuman khasnya. Kamipun mengucapkan salam bye bye. Aku kembali ke rumah. Sekarang aku hanya bisa terbaring di tempat tidurku, memikirkan apa yang telah kuperbuat barusan.

Aku...sudah berhasil memeluknya....Siiip!!! ^^V

0 komentar: