Miki's POV
"Miki..."
Siapa itu?
"Ini Ibu dan Ayah..."
Ibu! Ayah!
"Miki, maafkan kami ya.. Kami harus meninggalkanmu dalam waktu lama.."
Eh? Ibu dan Ayah mau ke mana?
"Kamu akan baik – baik saja, Miki.. Ayah dan Ibu akan mengawasimu.."
Aku ingin ike tempat Ibu dan Ayah..
"Tidak bisa , Miki. Tinggallah di sini. "
Aku tidak kenal mereka... Aku sendirian...
"Tidak, kamu tidak sendirian.. Mereka akan selalu memperhatikanmu.. Anak itu akan selalu memperhatikanmu.."
Siapa? Ibu.. Ayah.. Jangan pergi!!
"Selamat tinggal...Miki..."
"TUNGGU!!! Hah!!"
Aku mengamati sekelilingku. Aku ada di kamar?
"Jadi...barusan itu hanya mimpi..."
Aku beranjak dari tempat tidurku, mengambil photo yang tertata rapih di mejaku..
"Ayah... dan Ibu..?"
Tok Tok
"Miki.. kamu sudah bangun?" Terdengar suara dari balik pintu kamarku.
"Ah, iya. Tunggu aku bukakan pintu..", jawabku.
Suara itu adalah suara Hiroko-san
"Tidurmu nyenyak, Miki?" tanyanya sambil tersenyum ramah.
Aku menganguk.
"Sarapannya sudah siap ya, Hiroko-san?"
"Betul, makanya aku memanggillmu. Ayo kita makan.", jawabnya
Kami duduk mengelilingi meja makan kami dan berdoa pagi bersama.
"Hiroko-san.." Aku memulai percakapan sebelum Hiroko-san melahap sarapannya
"Ya, ada apa , Miki?" jawabnya tenang
"Aku...memimpikan orangtuaku.."
Hiroko-san sangat terkejut, ia menjatuhkan garpu dan sendoknya sekaligus
"Apakah ini yang pertama kalinya?", tanyanya penasaran
"Iya.. Aku tidak pernah terbayang akan wajah mereka sekalipun kecuali melihat ke photo.. Sepertinya aku sudah mulai mengingat mereka sedikit demi sedikit..", aku tersenyum senang.
"Miki..."
Hiroko-san beranjak dari kursinya, berjalan ke arahku dan memelukku erat...
" Aku akan membantumu mengingat semuanya. Aku akan mendukungmu, Miki.. Janganlah kau ragu datang kepadaku. Oh, sungguh amat terimakasih Tuhan.." Hiroko-san terdengar seperti menangis
"Terimakasih, Hiroko-san... Jika tidak ada kau, aku bahkan tak bisa mengenal diriku sendiri. Terimakasih banyak..", aku membalas pelukannya. Menepuk punggung Hiroko-san sehingga ia lebih ceria.
"Kau ini! Padahal masalah ini mengenai kamu. Kenapa malahan aku yang menangis? Hahahahaha!"
"Hahahaha, Kaunya saja yang terlalu lembek, Hiroko-san...ahaha!"
"Sudah lama, aku tidak melihatmu tertawa lagi, Miki.." Hiroko-san menepuk pundakku.
"Sungguh? Mungkin selama ini aku terlalu menyindiri..." jawabku
Hiroko-san tersenyum lemah kepadaku. Matanya bergerak dari menatap mataku hingga menatap... dadaku??? Ia terlihat bingung.
"Ada apa, Hiroko-san? Kenapa kau mengamatiku seperti itu?" dengan cepat aku menutupi dadaku dengan kedua tangannku
"Kalung itu...Dari mana kau mendapatkannya?"
DGGEER.. Ternyata dia ngeliat kalungnya toh.. Syukurlah...Kirain dada...
"Kalung ini...."
' Ini...Untukmu..'
Suara Tatsuya melintas di dalam pikiranku.
"Kalung ini.. kudapat dari temanku di Tokyo...", jawabku tersenyum
"Wah, baik sekali. Kalung ini indah sekali lho, Miki!" Hiroko-san terkagum – kagum mengamati kalungku.
"Iya, indah sekali.. Seperti pemberinya..."
"Eh? Kau bilang apa barusan?", Hiroko-san terlihat tidak mendengar jelas.
"Bukan apa- apa kok , hehehe.."
Wajah Hiroko-san terlihat bingung dan mencibir.
"Oh ya, Miki...."
"Padahal umurmu sudah 24, kok dadamu masih kecil – kecil saja ya??"
JLEBB!!! ????!!!!!!
"Hiroko-Saaaan~!!!!!" \>____________________
Rabu, 16 September 2009
Boku no Hatsukoi -4-
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Blog Archive
About Me
- NdineBeth
- I love to watch movie, and anything that connected to "media" I love to sing and create songs.. Still I don;t have lyrics..hehehhe Well...You will know me better if you talk with me..^^ YOROSHIKU!! Nice to meet ya!